Belajar dari AI Prompting untuk Memahami Seni Bertanya dalam Coaching
Kita sedang berada di masa ketika hampir semua orang bisa menggunakan AI. Hanya dengan beberapa kata, kita dapat meminta AI menulis, menganalisis, merangkum, mencari ide, bahkan membantu mengambil keputusan. Namun, semakin banyak orang menggunakannya, semakin terlihat satu hal: memiliki akses terhadap AI tidak otomatis berarti mampu menggunakannya dengan optimal.
Tools yang digunakan bisa sama, tetapi hasil yang diperoleh sangat berbeda.
Seseorang mungkin hanya mengetik, “Buatkan caption tentang leadership.” Sementara orang lain memberikan konteks tentang siapa audiensnya, apa tujuan komunikasinya, bagaimana karakter brand yang ingin dibangun, pesan apa yang ingin disampaikan, hingga format seperti apa yang diharapkan. Keduanya menggunakan AI yang sama, tetapi kualitas output-nya dapat berbeda jauh.
Perbedaannya bukan semata-mata terletak pada tools yang digunakan. Perbedaannya ada pada bagaimana kita berkomunikasi dengannya.
Itulah mengapa prompting menjadi semakin penting. Kita belajar bahwa jika ingin mendapatkan output yang lebih relevan, kita tidak cukup hanya memberikan perintah. Kita perlu memberikan konteks, menjelaskan tujuan, memperjelas ekspektasi, dan menyampaikan informasi yang membantu AI memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Semakin jelas input yang kita berikan, semakin besar kemungkinan kita mendapatkan output yang sesuai. Dan menariknya, prinsip ini membawa kita pada sebuah refleksi yang jauh lebih luas.
Jika kita rela belajar bagaimana bertanya kepada AI agar mendapatkan hasil terbaik, bagaimana dengan cara kita bertanya kepada manusia?

Seni Bertanya Dimulai dari Memahami Konteks
Dalam prompting, kita belajar bahwa sebuah pertanyaan tidak selalu cukup jika berdiri sendiri. Ketika kita meminta AI menghasilkan sesuatu, konteks membuat AI memahami arah yang kita inginkan. Siapa yang menjadi targetnya? Apa yang ingin dicapai? Dalam situasi seperti apa hasil tersebut akan digunakan? Apa batasannya? Seperti apa output yang diharapkan?
Tanpa konteks, respons yang dihasilkan mungkin terdengar benar, tetapi belum tentu relevan. Hal yang serupa terjadi dalam coaching. Ketika seorang coachee mengatakan, “Saya ingin resign,” kalimat tersebut belum tentu menceritakan keseluruhan situasi. Di baliknya bisa ada kelelahan, konflik nilai, kebutuhan akan perubahan, keinginan berkembang, hubungan dengan atasan, atau bahkan sesuatu yang belum mampu ia rumuskan sendiri.
Respons yang terlalu cepat mungkin akan membawa percakapan pada solusi.
“Kenapa ingin resign?”, “Sudah punya pekerjaan baru?”, “Kalau begitu, kapan akan resign?”
Padahal, mungkin yang dibutuhkan bukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Mungkin yang dibutuhkan adalah ruang untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Seorang coach perlu mampu hadir di dalam konteks tersebut. Bukan untuk segera menentukan arah percakapan, tetapi untuk memahami apa yang sedang ingin dieksplorasi oleh coachee.
Pertanyaan seperti: “Apa yang membuat hal ini menjadi penting bagi Anda saat ini?” dapat membawa percakapan ke tempat yang berbeda.
Begitu pula: “Apa yang sebenarnya ingin Anda ubah?” atau “Jika kita melihat situasi ini lebih jauh, apa yang belum Anda pertimbangkan?”
Pertanyaan tersebut tidak memberikan solusi. Namun, ia membantu coachee memberikan konteks kepada dirinya sendiri.
Dan di situlah salah satu kekuatan coaching berada.
Pertanyaan yang baik tidak hanya mengumpulkan informasi. Ia membantu seseorang memahami situasinya dengan lebih utuh.
Namun, Manusia Bukan AI. Di sinilah analogi antara prompting dan coaching menjadi menarik, sekaligus memiliki batas yang penting.
AI bekerja dengan memproses instruksi, konteks, dan informasi yang diberikan kepadanya untuk menghasilkan respons. Manusia jauh lebih kompleks. Ketika seorang coachee datang membawa sebuah persoalan, ia tidak hanya membawa fakta. Ia membawa pengalaman, emosi, nilai, keyakinan, asumsi, persepsi, kebutuhan, dan berbagai pengalaman masa lalu yang membentuk cara ia melihat situasi tersebut.
Bahkan, terkadang seseorang datang ke sesi coaching dengan sebuah cerita yang ia yakini sebagai kebenaran, padahal cerita tersebut hanyalah interpretasi yang selama ini belum pernah ia pertanyakan. Di sinilah coach memiliki peran yang berbeda.
Coach tidak sekadar mencari informasi yang belum lengkap untuk kemudian menghasilkan jawaban. Coach membantu coachee melihat apa yang mungkin belum ia lihat. Karena itu, coaching tidak dapat direduksi menjadi sekumpulan powerful questions yang tinggal digunakan sesuai situasi.
Pertanyaan yang bagus belum tentu menjadi pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang sangat dalam pun belum tentu dibutuhkan. Dan pertanyaan yang secara teori terlihat powerful bisa menjadi tidak efektif jika diajukan pada waktu yang salah, tanpa memahami konteks, atau tanpa benar-benar mendengarkan apa yang sedang terjadi pada coachee.
Dalam coaching, bukan hanya pertanyaannya yang penting. Kehadiran di balik pertanyaan itu juga penting.
Pertanyaan yang Tepat Tidak Selalu Pertanyaan yang Paling Dalam
Bayangkan seorang coachee berkata, “Saya merasa tidak cukup baik untuk memimpin tim ini.”
Ada begitu banyak pertanyaan yang dapat diajukan. “Apa yang membuat Anda merasa tidak cukup baik?”, “Sejak kapan Anda merasa seperti itu?”, “Menurut Anda, seperti apa pemimpin yang baik?”, “Apa bukti yang membuat Anda menyimpulkan bahwa Anda tidak cukup baik?”, “Jika rasa tidak cukup baik itu tidak ada, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda?”
Semuanya terdengar seperti pertanyaan yang baik. Tetapi pertanyaan yang paling powerful bukanlah pertanyaan yang paling rumit atau paling terdengar “dalam”.
Pertanyaan yang powerful adalah pertanyaan yang membuka sesuatu yang relevan bagi coachee pada saat itu.
Untuk mengetahui pertanyaan tersebut, coach membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan merangkai kalimat. Coach membutuhkan kemampuan mendengarkan.
Mendengarkan kata-kata yang diucapkan, tetapi juga memperhatikan pola yang muncul. Mendengarkan apa yang dikatakan, sekaligus menyadari apa yang mungkin belum dikatakan. Memperhatikan perubahan perspektif, keraguan, asumsi, bahkan kontradiksi yang mungkin muncul dalam percakapan.
Karena terkadang, pertanyaan terbaik bukanlah pertanyaan yang sudah kita siapkan sebelum sesi. Pertanyaan terbaik justru muncul karena kita benar-benar mendengarkan.
Dari Asking for Answers Menjadi Asking to Unlock
Mungkin di sinilah perbedaan paling mendasar antara menggunakan AI dan melakukan coaching. Ketika menggunakan AI, kita biasanya bertanya untuk mendapatkan jawaban. Kita ingin output yang lebih cepat, lebih relevan, lebih spesifik, dan lebih sesuai dengan kebutuhan kita.
Dalam coaching, pertanyaan memiliki fungsi yang berbeda. Coach tidak bertanya karena ia ingin menunjukkan bahwa ia memiliki jawaban yang lebih baik. Coach bertanya untuk membantu coachee menemukan apa yang sudah atau mungkin ada dalam dirinya.
Seseorang mungkin sebenarnya sudah memiliki jawabannya, tetapi belum pernah melihat persoalannya dari sudut pandang tersebut. Seseorang mungkin mengetahui apa yang ingin dilakukan, tetapi belum memiliki keberanian untuk mengakuinya. Seseorang mungkin memiliki beberapa pilihan, tetapi terlalu terpaku pada satu asumsi sehingga pilihan lain tidak terlihat. Atau seseorang mungkin terus mencari jawaban di luar dirinya, padahal yang dibutuhkan adalah ruang untuk berhenti dan mendengarkan dirinya sendiri.
Di sinilah pertanyaan menjadi sebuah intervensi.
Satu pertanyaan dapat membantu seseorang mengenali asumsi yang selama ini dianggap sebagai fakta. Pertanyaan lain dapat memperluas perspektif. Pertanyaan berikutnya mungkin membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Jadi, kemampuan bertanya dalam coaching bukan hanya tentang getting better answers. Lebih dari itu, ia adalah tentang unlocking better thinking.
Dan Mungkin, Inilah yang Bisa Kita Pelajari dari AI
Kita sedang sibuk belajar bagaimana berbicara dengan AI. Kita belajar membuat prompt yang lebih baik, memberikan konteks yang lebih lengkap, menjelaskan apa yang kita inginkan, dan menyusun instruksi dengan lebih spesifik agar mendapatkan output yang lebih relevan.
Semakin kita menggunakan AI, semakin kita menyadari bahwa kualitas interaksi kita ikut menentukan kualitas hasil yang kita dapatkan Tetapi mungkin, ada refleksi lain yang layak dibawa dari sana.
- Kita belajar memberikan konteks kepada AI agar AI dapat memahami kita. Apakah kita juga memberikan cukup ruang dan konteks ketika berusaha memahami manusia?
- Kita belajar memberikan instruksi yang jelas kepada AI. Apakah kita juga mampu menyampaikan pertanyaan yang jelas tanpa buru-buru mengarahkan orang lain pada jawaban yang sudah kita miliki?
- Kita belajar menyempurnakan prompt agar mendapatkan respons yang lebih baik. Apakah kita juga terus menyempurnakan cara kita bertanya agar percakapan dengan orang lain menghasilkan pemahaman yang lebih baik?
- Dan bagi seorang coach, refleksinya mungkin menjadi lebih dalam lagi. Apakah kita bertanya untuk benar-benar memahami, atau bertanya karena kita sudah memiliki jawaban yang ingin kita dengar?
Karena seorang coach dapat memiliki pertanyaan yang sangat cerdas, tetapi jika pertanyaan tersebut lahir dari asumsi, agenda, atau keinginan untuk mengarahkan coachee pada kesimpulan tertentu, maka pertanyaan itu mungkin tidak lagi membuka ruang. Ia justru menutupnya.

Ketika Jawaban Semakin Mudah, Pertanyaan Menjadi Semakin Berharga
AI membuat kita hidup di era ketika jawaban semakin mudah diperoleh. Kita tidak selalu harus mencari berjam-jam untuk menemukan informasi. Kita dapat bertanya, mendapatkan berbagai kemungkinan jawaban, membandingkan perspektif, lalu menggunakannya untuk membantu kita bekerja dan mengambil keputusan.
Namun, semakin mudah kita mendapatkan jawaban, semakin penting pula kemampuan untuk mengetahui pertanyaan apa yang sebenarnya perlu diajukan. Sebab pertanyaan menentukan apa yang kita eksplorasi. Pertanyaan menentukan apa yang kita perhatikan. Pertanyaan menentukan perspektif apa yang kita buka. Dan dalam coaching, pertanyaan bahkan dapat membantu seseorang menentukan kemungkinan apa yang dapat ia lihat dalam dirinya sendiri. Maka, mungkin masa depan bukan hanya milik mereka yang mampu menggunakan AI dengan baik. Tetapi juga milik mereka yang tetap mampu melakukan sesuatu yang sangat manusiawi: bertanya dengan penuh kesadaran.
Karena pada akhirnya, baik ketika kita berinteraksi dengan teknologi maupun manusia, ada satu prinsip yang sama:
The better you ask, the more you unlock.
AI dapat membantu kita menemukan jawaban. Namun dalam coaching, pertanyaan yang tepat dapat membantu seseorang menemukan dirinya, pilihannya, dan potensinya sendiri.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin cepat memberikan jawaban, kemampuan untuk menciptakan ruang bagi seseorang agar menemukan jawabannya sendiri akan menjadi salah satu bentuk keterampilan manusia yang paling bernilai.
Baca juga artikel AI & Coaching: Ancaman atau Peluang bagi Masa Depan Coaching?, Klik di sini!
Lihat juga Webinar – Level Up Coaching: Dari Teknik Coaching ke Kedalaman Emosi, Keyakinan dan Kesadaran Klien, Klik di sini!