Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk cara individu belajar, bekerja, dan mengembangkan diri. Dalam dunia coaching, kehadiran AI memunculkan pertanyaan yang semakin relevan: apakah teknologi ini akan menggantikan peran seorang coach, atau justru menjadi peluang bagi masa depan coaching?
Pertanyaan tersebut muncul karena kemampuan AI yang semakin berkembang dalam melakukan percakapan reflektif, membantu penetapan tujuan, hingga memberikan umpan balik secara real-time. Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh Terblanche, Molyn, de Haan, dan Nilsson menunjukkan bahwa peserta yang menerima coaching melalui AI maupun coach manusia sama-sama mengalami peningkatan yang signifikan dalam pencapaian tujuan mereka. Menariknya, pada akhir penelitian, efektivitas AI coach dalam membantu pencapaian tujuan tidak berbeda secara signifikan dibandingkan human coach (Terblanche et al., 2022).

Temuan ini menunjukkan bahwa AI memiliki potensi untuk menjalankan beberapa fungsi coaching, terutama yang berkaitan dengan penetapan tujuan, monitoring progres, dan akuntabilitas. Dengan kemampuan tersedia sepanjang waktu dan biaya yang relatif lebih rendah, AI membuka peluang untuk memperluas akses coaching kepada lebih banyak orang.
Namun, coaching tidak hanya berbicara tentang kemampuan mengajukan pertanyaan atau membantu seseorang mencapai target tertentu. Coaching juga merupakan proses relasional yang dibangun melalui kehadiran, empati, kepercayaan, dan kemampuan memahami konteks unik setiap individu. Meskipun AI mampu mengenali pola dan menghasilkan respons yang relevan, teknologi ini belum memiliki kesadaran emosional dan pengalaman manusia yang menjadi fondasi dalam hubungan coaching yang mendalam.
Pandangan bahwa AI seharusnya melengkapi, bukan menggantikan coaching manusia, juga terlihat dari langkah yang diambil oleh International Coaching Federation. Pada tahun 2024, ICF meluncurkan Artificial Intelligence (AI) Coaching Framework and Standards, sebuah kerangka kerja global yang dirancang untuk memastikan penggunaan AI dalam coaching tetap etis, efektif, aman, dan selaras dengan kompetensi coaching profesional. Dalam dokumen tersebut, ICF tidak memposisikan AI sebagai pengganti coach, melainkan sebagai teknologi yang dapat meningkatkan aksesibilitas dan efektivitas coaching apabila digunakan secara bertanggung jawab (International Coaching Federation, 2024).
Kerangka kerja tersebut mencakup enam domain utama, mulai dari etika AI, pembangunan hubungan coaching, komunikasi efektif, fasilitasi pembelajaran dan pertumbuhan, hingga aspek keamanan data, privasi, dan aksesibilitas teknologi. Kehadiran standar ini menunjukkan bahwa organisasi coaching terbesar di dunia melihat AI sebagai bagian dari masa depan coaching yang perlu diatur dan diintegrasikan secara profesional, bukan dihindari.
Menariknya, ICF juga menyoroti beberapa manfaat AI dalam coaching, seperti kemampuan menyediakan dukungan 24/7, membantu tugas administratif yang repetitif, serta memungkinkan lebih banyak individu dan organisasi mengakses coaching. Dengan berkurangnya beban administratif, coach dapat memfokuskan energinya pada percakapan yang lebih kompleks dan transformasional (International Coaching Federation, 2024).
Melihat perkembangan tersebut, masa depan coaching tampaknya tidak akan ditentukan oleh persaingan antara AI dan coach. Sebaliknya, masa depan coaching kemungkinan akan dibentuk oleh kolaborasi keduanya. AI dapat membantu proses yang bersifat administratif, analitis, dan berulang. Sementara itu, coach tetap memainkan peran penting dalam membangun hubungan, menghadirkan kesadaran baru, serta mendampingi proses perubahan yang membutuhkan empati, intuisi, dan kebijaksanaan manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah AI akan menggantikan coach. Pertanyaan yang perlu dijawab oleh profesi coaching saat ini adalah bagaimana memanfaatkan AI untuk memperluas dampak coaching tanpa kehilangan esensi coaching itu sendiri. Karena di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, kemampuan untuk hadir secara utuh, mendengarkan secara mendalam, dan membangun hubungan yang autentik justru menjadi nilai yang semakin berharga.
Referensi
Terblanche, N., Molyn, J., de Haan, E., & Nilsson, V. O. (2022). Comparing Artificial Intelligence and Human Coaching Goal Attainment Efficacy. PLOS ONE, 17(6), e0270255.
International Coaching Federation. (2024). Artificial Intelligence (AI) Coaching Framework and Standards. ICF AI Coaching Framework and Standards
Lihat juga artikel Ini, Klik di sini!
Baca juga artikel Memahami harapan masyarakat terhadap Coaching sebagai suatu Profesi, Klik di sini!