Loop Institute of Coaching

Leadership Is Moving from Control to Capability

Dulu, efektivitas seorang leader sering kali dikaitkan dengan kemampuannya dalam mengarahkan, mengontrol, dan memastikan pekerjaan berjalan sesuai target.

 

Leader yang baik dianggap sebagai seseorang yang mampu memberikan instruksi dengan jelas, mengambil keputusan dengan cepat, mengawasi pekerjaan, dan memastikan tim melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Namun, dunia kerja terus berubah.

 

Hari ini, organisasi tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menjalankan tugas, tetapi juga individu yang mampu beradaptasi, berpikir kritis, menciptakan ide baru, mengelola diri, dan terus berkembang di tengah perubahan.

Hal ini terlihat dari keterampilan yang semakin dibutuhkan di dunia kerja.

Leadership Is Moving from Control to Capability

Menurut World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025, Resilience, Flexibility & Agility menjadi salah satu kelompok skill yang paling penting bagi dunia kerja, dengan 67% perusahaan yang disurvei menganggapnya penting. Diikuti oleh Leadership & Social Influence sebesar 61%, Creative Thinking sebesar 57%, serta Motivation & Self-awareness sebesar 52%.

 

Artinya, kebutuhan leadership hari ini bukan hanya tentang mengelola pekerjaan, tetapi juga tentang mengembangkan manusia.

Tidak Semua Skill Bisa Dibangun Melalui Instruksi

Bayangkan seorang leader berkata kepada anggota timnya:

“Kamu harus lebih resilient.” atau “Coba lebih kreatif.” atau “Kamu harus lebih percaya diri.” atau “Jangan terlalu emosional.”

 

Instruksi tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi, apakah seseorang otomatis menjadi lebih resilient, kreatif, percaya diri, atau self-aware hanya karena diminta? Tentu tidak.

Skill seperti ini tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kesadaran, refleksi, pengalaman, dan proses belajar. Seorang leader bisa memberi tahu seseorang apa yang harus dilakukan. Tetapi leader tidak selalu bisa memberi tahu seseorang bagaimana cara menemukan jawabannya sendiri.

Dan di sinilah terjadi perubahan penting dalam leadership.

From Controlling Performance to Building Capability

Leadership tidak lagi hanya tentang memastikan orang melakukan pekerjaannya dengan benar. Leadership juga tentang membantu seseorang menjadi lebih mampu dalam menghadapi pekerjaannya.

Alih-alih selalu memberikan jawaban, seorang leader dapat mulai mengajukan pertanyaan:

 

“Menurut kamu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

“Apa yang sudah kamu pelajari dari situasi ini?”

“Apa pilihan yang kamu punya?”

“Apa yang ingin kamu lakukan berbeda ke depannya?”

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka ruang bagi individu untuk berpikir, merefleksikan pengalaman, dan mengambil ownership terhadap perkembangannya. Inilah pergeseran dari control menuju capability. Leader tidak kehilangan perannya. Sebaliknya, peran leader berkembang. Dari menjadi orang yang selalu memiliki jawaban, menjadi orang yang mampu menciptakan ruang agar orang lain menemukan jawaban dan mengembangkan kapasitasnya sendiri.

Mengapa Coaching Menjadi Relevan?

Coaching memiliki pendekatan yang berbeda dari sekadar memberikan arahan. Dalam coaching, individu didorong untuk mengeksplorasi situasi, meningkatkan awareness, melihat perspektif yang berbeda, dan menentukan langkahnya sendiri. Proses tersebut menjadi relevan ketika organisasi ingin membangun kemampuan yang tidak bisa dikembangkan hanya melalui instruksi.

Misalnya:

  • Resilience membutuhkan kemampuan untuk memahami dan merespons tantangan.
  • Creative thinking membutuhkan ruang untuk mengeksplorasi perspektif dan kemungkinan baru.
  • Self-awareness membutuhkan refleksi terhadap pola pikir, perilaku, dan dampaknya.
  • Motivation membutuhkan pemahaman terhadap apa yang benar-benar mendorong seseorang untuk bergerak.

Semua itu membutuhkan proses. Dan leader dapat berperan sebagai fasilitator dalam proses tersebut.

Leadership yang Membangun Orang, Bukan Sekadar Mengelola Orang

Pada akhirnya, leadership bukan hanya tentang berapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan oleh tim.

Leadership juga dapat dilihat dari: Seberapa banyak kemampuan yang berkembang di dalam tim.

  • Apakah anggota tim menjadi lebih mampu mengambil keputusan?
  • Apakah mereka lebih berani menyampaikan ide?
  • Apakah mereka mampu merefleksikan kesalahan dan belajar darinya?
  • Apakah mereka semakin mandiri?
  • Apakah mereka memiliki awareness terhadap kekuatan dan area pengembangannya?

Jika jawabannya semakin banyak “ya”, maka leader tidak hanya sedang mengelola performance. Ia sedang membangun capability. Dan mungkin, inilah salah satu bentuk leadership yang semakin dibutuhkan di dunia kerja hari ini: Bukan leader yang selalu memberikan jawaban, tetapi leader yang mampu membantu orang lain menemukan jawabannya.

Leadership Is Moving from Control to Capability

Saatnya Mengembangkan Coaching Mindset

Kemampuan coaching tidak hanya relevan bagi mereka yang berprofesi sebagai coach. Coaching mindset dapat menjadi kemampuan yang mendukung leader, people manager, HR professional, maupun siapa pun yang memiliki peran dalam mengembangkan orang lain.

 

Jika Anda ingin memahami coaching secara lebih mendalam dan mengembangkan kemampuan untuk mendampingi proses pertumbuhan individu secara lebih terstruktur, Loop Certified Personal Growth Coach dapat menjadi salah satu langkah untuk memulainya.

 

Karena ketika leadership bergerak dari control menuju capability, kemampuan untuk membantu orang lain bertumbuh menjadi semakin penting. Bukan hanya memimpin pekerjaan. Tetapi membantu manusia di dalamnya menjadi lebih mampu.

Baca juga artikel Personal Growth Coach Personal Growth Coach: Profesi yang Membantu Orang Lain Bertumbuh dari Dalam Diri, Klik di sini!

Scroll to Top