Loop Institute of Coaching

Coaching dan Tantangan Generational Bias: Memimpin di Antara Perbedaan

Setiap generasi membawa kisah, nilai, dan cara berpikirnya sendiri. Generasi senior tumbuh dengan kedisiplinan dan hierarki. Generasi muda tumbuh dalam dunia cepat, digital, dan kolaboratif. Ketika semua berada dalam satu ruang kerja, benturan sering kali tak terhindarkan, bukan karena niat buruk, tapi karena perbedaan makna dalam melihat dunia.

Inilah yang disebut Generational Bias, kecenderungan menilai generasi lain dengan kacamata pengalaman sendiri. Dan tanpa disadari, bias ini bisa merusak kepercayaan, menghambat komunikasi, bahkan memperlambat kolaborasi dalam organisasi.

Di banyak organisasi, bias muncul dalam bentuk sederhana:

“Anak muda sekarang susah diarahkan.”

“Senior susah menerima ide baru.”

Dalam situasi seperti inicoaching hadir bukan untuk “mengubah” salah satu pihaktapi untuk memfasilitasi pemahaman lintas generasi. 
Coaching mengajarkan pemimpin untuk: 

  • Mendengarkan tanpa menghakimi, 
  • Mengajukan pertanyaan yang memunculkan kesadaran, 
  • Menghargai nilai dan pengalaman berbeda sebagai aset organisasi. 

Percakapan coaching membantu setiap individu merasa didengar, dimengerti, dan dilibatkan. Tiga hal yang menjadi kunci membangun kepercayaan antar generasi.

Generational bias tumbuh dari asumsi. Coaching menumbuhkannya kembali menjadi rasa ingin tahu.  Alih-alih bertanya, “Kenapa mereka begitu?”, pemimpin dengan coaching mindset akan bertanya, “Apa yang penting bagi mereka, dan bagaimana saya bisa mendukungnya?” Pertanyaan sederhana seperti ini membuka jalan untuk dialog yang lebih empatikbukan reaktif. 

Menurut penelitian Deloitte (2024), perusahaan dengan kolaborasi lintas generasi yang efektif memiliki retensi karyawan 30% lebih tinggi dan produktivitas 23% lebih baik dibanding yang masih terjebak bias usia. Sementara studi ICF (International Coaching Federation) menunjukkan bahwa penerapan coaching culture di organisasi berkontribusi langsung terhadap peningkatan trust, engagement, dan cross-generational collaboration.

Pemimpin masa kini bukan hanya ditantang untuk “mengatur yang muda” atau “menghormati yang tua,” tetapi untuk menjembatani perbedaan dengan empati, kehadiran, dan keingintahuan. Itulah inti dari kepemimpinan berbasis coaching mengubah ruang kerja yang penuh prasangka menjadi ruang belajar bersama

Coaching membantu pemimpin melihat melampaui label generasi. Bahwa di balik usia, pengalaman, dan cara kerja yang berbeda, setiap orang sama-sama mencari makna, pengakuan, dan kesempatan untuk berkembang.

Efektivitas organisasi di masa depan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling muda atau paling lama bekerja, 
melainkan oleh siapa yang mampu memimpin dengan kesadaran lintas generasi. 

Baca juga artikel Coaching Coaching: Formulai Ajaib untuk Menjembatani Perbedaan Antar Generasi, Klik disini!

Lihat juga webinar Loopositivity Alumni Berbagi: Cooaching untuk Meningkatkan keterlibatan Karyawan Gen Z dan Milenial , Klik disini!

Scroll to Top