PT. LINKAR INDONESIA CENDEKIA
Jakarta, Indonesia.
Send Your Mail At
info@loop-indonesia.com
Desember 03, 2019 , Blog
Empowered Leader Through Coaching

Ada yang tahu Garry Kasparov? Garry Kasparov adalah pecatur Grand Master Rusia, peringkat satu dunia selama 225 bulan. Yang spesial dari Kasparov bukan hanya prestasi dan lamanya dia menjadi peringkat satu dunia. Tetapi juga sebuah peristiwa pada tahun 1997 bulan Mei. Pada saat itu Kasparov ditantang bertanding catur. Yang menantang saat itu adalah sebuah perusahaan teknologi, IBM dengan super komputer ciptaannya, Deep Blue. Pertandingan itu menjadi sebuah pertandingan yang monumental antara Manusia versus Mesin. Mereka bertanding dua kali, yaitu pada tahun 1996 dan 1997. Pada pertandingan pertama, Kasparov menang. IBM meminta rematch. Pada Tahun 1997, pertandingan yang kedua, Deep Blue menang, Kasparov kalah. Kemenangan Deep Blue merupakan peristiwa yang sangat penting tidak hanya bagi IBM, tetapi juga bagi para scientist dan expert di bidang komputer. 


Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee menjadikan peristiwa tersebut sebagai tanda dimulainya era Second Machine Age. Sebuah era kedua dimana mesin mengambil alih peran manusia. Yang pertama kita tahu terjadi pada masa revolusi industri pada abad 18 dan 19. Dan saat ini, teknologi benar-benar sudah mengubah segalanya. Teknologi sudah berkembang sangat pesat jauh lebih cepat melampaui kemampuan manusia untuk mengikutinya. Dampaknya banyak sekali bisnis yang gulung tikar karena gagal menyesuaikan dengan perkembangan dan perubahan di era digital ini. Contoh klasik dari kasus ini adalah Kodak, sang jawara bisnis fotografi yang enggan mengadopsi fotografi digital hingga akhirnya mati ditinggal pelanggannya dan harus menjual ribuan paten miliknya. Ada juga Nokia yang harus gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan IOS dan Android. CEO Nokia, Stephen Elop bahkan harus berurai air mata saat mengatakan “We didn’t do anything wrong, but somehow we lost”. Ada juga Blackberry yang ngotot dengan keyboard fisik dan sistem operasinya sementara saat itu semua kompetitornya sudah menggunakan layar sentuh dengan beragam aplikasi yang dapat diunduh dengan mudah.  


Era digital ini juga dikenal sebagai era VUCA, sebuah terminologi dari militer Amerika yang diadaptasi ke dalam ilmu Manajemen. VUCA adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan dunia yang mengalami perubahan sangat cepat, tidak pasti, dan semakin kompleks. VUCA adalah akronim dari Volatility, didefinisikan dengan perubahan yang sangat cepat. Uncertainty, adalah ketidakpastian yang membuat kita kesulitan untuk memprediksi kejadian atau peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Complexity adalah tentang benturan-benturan berbagai kekuatan, isu serta situasi yang sulit dipahami yang melingkupi organisasi. Sementara Ambiguity adalah situasi yang tidak jelas, kabur. Era VUCA ini membuat tren industri dan organisasi berubah dengan sangat cepat.  


Dampaknya, tim diharapkan dapat mengambil inisiatif, membuat keputusan, dengan cepat dan dapat diandalkan. Untuk itu penting bagi pemimpin untuk mengganti pola pikir mereka dari “pemimpin menciptakan pengikut” menjadi “pemimpin menciptakan pemimpin”. Pemimpin harus mengadaptasi gaya kepemimpinannya agar dapat membawa timnya lebih tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan. Pemimpin harus berubah dari pemimpin yang memegang kendali penuh atas timnya, mulai dari penentuan target, penyelesaian masalah, hingga pengambilan keputusan menjadi pemimpin yang memberdayakan.


Jika dianalogikan, pemimpin yang memegang kendali penuh seperti kereta jaman dulu, dimana gerbong kereta ditarik oleh lokomotif yang ada di paling depan. Keretanya mampu berjalan, tetapi tidak mampu berjalan dengan cepat. Hal ini dikarenakan si lokomotif memiliki beban harus menarik gerbong-gerbong yang ada di belakangnya. Sementara pemimpin yang memberdayakan seperti kereta Shinkansen. Kereta cepat buatan Jepang ini mampu melesat ratusan kilometer per jam karena setiap gerbong tidak ditarik oleh lokomotif paling depan melainkan setiap gerbong terdapat mesin penggeraknya. Seperti itulah pemimpin yang memberdayakan (empowered leader). Ia mampu mentransformasi orang-orang yang dipimpinnya menjadi orang-orang yang dapat mandiri menyelesaikan masalahnya, inisiatif mengajukan gagasan-gagasan sehingga dapat lahir terobosan-terobosan baru bagi perusahaan.  


Seperti apa Empowered Leader itu? Empowered Leader itu

  1. Memegang komitmen. Ia akan berupaya menggali komitmen dari timnya sehingga target yang ada menjadi tujuan bersama. Dengan demikian, tim mempunyai rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap apa yang menjadi tanggung jawab bersama. Dengan terciptanya komitmen, tim menjadi tahu persis apa yang diharapkan dari dirinya dan konsekuensi yang akan diterima jika hal tersebut tidak tercapai.
  2. Memberikan tantangan. Ketika tim datang kepada pemimpin untuk meminta solusi, alih-alih memberikan jawaban, pemimpin akan menggunakan kesempatan itu untuk mendorongnya memikirkan bagaimana mendapatkan jalan keluarnya dan mencari solusinya.
  3. Menggali solusi. Ia mampu mengubah pola pikir anggota tim yang fokus pada masalah menjadi fokus pada solusi. Ia mampu mengajak timnya untuk berpikir “cara berbeda apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini?”


Ciri-ciri Empowered Leader diatas sebetulnya merujuk pada aktivitas coaching. Peran-peran Empowered Leader diatas sangat sesuai dengan definisi coaching menurut ICF, yaitu “Sebuah bentuk KEMITRAAN dengan coachee di dalam proses yang MEMPROVOKASI PIKIRAN dan KREATIVITAS untuk menginsipirasi coachee MEMAKSIMALKAN potensi, baik secara personal maupun profesional”. Maka dari itu, peran sebagai coach sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Kemampuan coaching menjadi sebuah kemampuan wajib yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin di dalam organisasi. Pendekatan coaching dinilai mampu untuk membuat anggota tim lebih percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab.


Pendekatan coaching merupakan jalan tercepat dan paling berdaya untuk mengembangkan pemimpin di setiap level (Hargrove, 2008).  Pemimpin sebagai coach akan mampu menciptakan orang-orang yang tidak hanya pandai dalam bekerja dan mempunyai berbagai solusi atas tantangan yang ditemui di tempat kerja. Lebih dari itu, anggota tim mampu merasa memiliki terhadap tugas-tugasnya dan perusahaan tempat mereka bekerja. Pemimpin yang mampu memberdayakan timnya akan lebih sering mempercayai kemampuan anggota timnya ketimbang meragukannya. Ia akan lebih banyak mengajukan pertanyaan ketimbang langsung memberikan jawaban, akan lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Lama kelamaan, apabila mengajukan pertanyaan sudah menjadi hal yang biasa, anggota tim pun akan terbiasa melakukan proses berpikir sebelum mereka datang kepada pemimpin untuk meminta jawaban. Ketika solusi yang mereka sampaikan berhasil saat penerapannya, rasa percaya diri mereka akan meningkat. Jika solusi belum mencapai hasil yang diharapkan, mereka akan belajar sesuatu yang baru. Dan proses ini akan terus bergulir hingga semua anggota tim siap melakukan hal yang sama kepada tim yang mereka pimpin. 



Referensi: 

Brynjolfsson, Erik. and McAfee, Andrew. The Second Machine Age.

2014. 1st ed. W. W. Norton & Company 

Gowmon, Vince. Empowered Leadership - 20 Attributes and Practices for Leading in the New World. https://www.vincegowmon.com/empowered-leadership/ 

Hargrove, Robert. 2008. Masterful Coaching 3rd ed. San Fransisco: A Willey Imprint 

Latest Blog

Menemukan Potensi Melalui Coaching
Hidup di era digital seperti saat ini membuat kita menjadi orang yang beruntung. Mengapa demikian? Karena saat ini berbaga...
Indahnya Metode Coaching untuk Menciptakan Kemandirian Sesama
Metode Coaching merupakan salah satu yang bisa digunakan pada saat ingin mengembangkan kepercayaan diri, kemandirian sesa...
Mengubah Manusia Melalui Coaching
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Hal ini sudah merupakan sifat alamiah. Jika mungkin seseorang terlihat acuh t...