PT. LINKAR INDONESIA CENDEKIA
Jakarta, Indonesia.
Send Your Mail At
info@loop-indonesia.com
Agustus 22, 2019 , Blog
PERCEIVED RESOURCES COACHING UNTUK MENINGKATKAN BUSINESS CONTINUITY

Kesuksesan organisasi berdampak pada keberlanjutan bisnis (business continuity) suatu organisasi. Pada organisasi yang meyakini bahwa safe projects are successful projects, organisasi menempatkan safety sebagai landasan utama dalam menjalankan kegiatan bisnisnya untuk menjaga keselamatan setiap orang setiap hari. Untuk mempertahankan dan meningkatkan keberlanjutan bisnis, organisasi menargetkan tidak ada insiden signifikan (zero significant incident record) yang terjadi pada proses bisnisnya. Berapapun jumlah insiden signifikan (significant incident) yang terjadi, dapat berakibat pada penghentian ijin usaha dan pemutusan kontrak bisnis dari klien. Oleh karena itu aspek safety menjadi hal yang signifikan dalam proses bisnis yang  berdampak pada aspek finansial dan keberlanjutan bisnis organisasi. 


Kinerja safety di organisasi dipengaruhi oleh aspek human capital, information capital, dan organization capital.

  • Human capital adalah kompetensi karyawan dalam menerapkan perilaku aman (safe behavior) pada pekerjaan mereka sehari – hari.
  • Information capital adalah sistem safety yang diterapkan organisasi berupa prosedur, pelatihan safety, safety audit.
  • Selanjutnya organization capital adalah safety culture yaitu budaya safety yang diterapkan dengan memasukan safety sebagai aspek penilaian kinerja yang berdampak pada rewards dan punishment bagi karyawan, misalnya penerapan PHK ketika karyawan melakukan pelanggaran safety berat.  


Banyak organisasi meyakini bahwa aspek human capital berupa sistem safety dan aspek information capital berupa safety culture berperan penting dalam kinerja safety. Akan tetapi beberapa penelitian menyatakan sebaliknya. Pengelolaan sistem safety dan safety culture yang bagus ternyata tidak menjamin kinerja safety baik. Ada aspek – aspek non system yang dapat menyebabkan insiden, salah satunya aspek psikologis. Hasil penelitian Embrey (2005); Goulielmos, Lathouraki, dan Giziakis (2012); Sinclair dan Cunningham (2014); Kovacevic, Papic, Janackovic, dan Savic (2016). Menunjukkan bahwa insiden pada umumnya disebabkan oleh faktor manusia (human factor). Salah satu human error yang menyebabkan kinerja safety menurun adalah kesalahan pengambilan keputusan pada situasi emergensi yang mengakibatkan manusia melakukan tindakan tidak aman (unsafe action), yang pada akhirnya menyebabkan insiden.  


Pengambilan keputusan pada situasi emergensi dalam konstruk psikologi disebut dengan intuitive decision making, yaitu pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi, pengalaman, tidak berdasarkan opsi – opsi tetapi lebih mempertimbangkan masuk akal atau tidaknya pilihan – pilijan tersebut, yang terjadi dengan cepat, tepat, dan melibatkan emosi (Klein, 2015; Robbins & Judge, 2015; King, 2014). Kemampuan intuitive decision making individu di organisasi dapat menurun salah satunya karena kurangnya sumber daya individu, yang dalam konstruk psikologi disebut dengan perceived resources. Perceived resources adalah sifat pribadi, keterampilan, kemampuan, waktu dan tenaga yang dimiliki individu untuk memenuhi job demands (Zellars, Hochwarter, Lanivich, Perrewé, & Ferris, 2011; Judge, 2015). Kesalahan intuitive decision making terjadi ketika individu tidak mempunyai cukup tenaga, waktu, dan rekan kerja untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat pada situasi emergensi. Hal ini menyebabkan individu melakukan tindakan tidak aman (unsafe behavior) yang berakibat pada terjadinya insiden.  


Terkait penelitian Zellars, Hochwarter, Lanivich, Perrewé, dan Ferris (2011) bahwa  individu dengan perceived resources tinggi berpeluang untuk menghasilkan kinerja yang baik, sebaliknya individu dengan perceived resources rendah berpeluang untuk menghasilkan kinerja yang rendah,  maka agar kemampuan pengambilan keputusan pada situasi emergensi individu meningkat, perlu dilakukan intervensi untuk memperkuat perceived resources individu di organisasi supaya individu dapat mempunyai waktu, tenaga, dan rekan kerja untuk dapat membuat keputusan pada situasi emergensi dengan cepat dan akurat. 


Salah satu program intervensi yang diambil untuk meningkatkan perceived resources individu di organisasi adalah program intervensi pada aspek human capital, yaitu intervensi Perceived Resources Coaching. Perceived resources coaching ini fokus pada membantu coachee untuk dapat memperoleh atau meningkatkan perceived resourcesnya dengan cara membantu coachee mengenali potensi dirinya, kekuatan dan kelemahan, hambatan yang dialami bawahan dalam memperoleh waktu dan tenaganya dalam menjalankan pekerjaannya dengan cara mendelegasikan tugas – tugas kepada bawahan, bekerja sama, dan membagi waktu secara efektif dan professional sehingga mampu mengambil keputusan pada situasi emergensi dengan akurat, dan tidak terjadi significant incidents.


Coaching terdiri dari tahapan – tahapan membangun hubungan (building rapport), menetapkan target atau tujuan (define outcome), mengidentifkasi solusi (identify solution), menetapkan solusi (define solution), dan mengkonkritkan solusi (commit action) untuk dapat meningkatkan waktu untuk menyelesaikan tugas – tugas atau pekerjaan mereka. 


Untuk memaksimalkan peningkatan perceived resoures ini, intervensi tidak hanya sebatas pada kemampuan atau keterampilan individu dalam mendelegasikan tugas, bekerja sama dalam tim, dan membagi waktu, tetapi juga sampai menjadi budaya di organisasi. Oleh karena itu, intervensi perceived resources coaching perlu dilanjutkan ke tahap – tahap berikut ini: 


  • Tahap commitment and accountability, acknowledgement, dan follow up supaya perceived resources coaching menjadi lebih efektif.
    • Pada tahap commitment and accountability, coachee harus dimonitor dan dipastikan untuk tetap pada commit action yang sudah ditetapkan.
    • Pada tahap acknowledgement, coachee harus diberikan  motivasi ketika coachee menemukan hambatan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
    • Pada tahap follow up, coachee dievaluasi untuk mengetahui progress, perubahan, dan keberhasilan coaching. pembentukan online perceived resources coaching group, berupa whatsapp (WA) group untuk membantu coachee tetap berkomunikasi dengan peneliti, dan peneliti dapat memonitor perkembangan dari para coachee tersebut.
  • Pelaksanaan perceived resources coaching dimasukan pada aspek information capital yaitu menjadi poin dalam penilaian kinerja individu dengan memasukkan poin coaching ini dalam sistem penilaian kinerja (performance appraisal) di organisasi.
  • Selanjutnya, menerapkan sistem penghargaan (rewards system) berupa pemberian bonus performance bagi karyawan yang menerapkan perceived resources coaching dalam pekerjaan mereka sehari – hari. Pemberian rewards tersebut memotivasi para karyawan untuk terus menerus menerapkan perceived resources coaching yang efektif dan professional.  

Berdasarkan hal – hal tersebut, perceived resources coaching tidak hanya sebatas meningkatkan pengetahuan dan skill saja, tapi dapat menjadi budaya di organisasi untuk dapat meningkatkan kinerja safety yang pada akhirnya berdampak pada keberlanjutan bisnis (business continuity). 


Artikel Karya : Yosefine Aryani

Latest Blog

Coaching sebagai Metode dalam Persiapan Pensiun
Pensiun adalah putusnya hubungan kerja antara karyawan dengan organisasi tempat bekerja pada saat karyawan sudah mencapai ...
Financial Coaching
Apa yang terbayang di dalam pikiran Anda ketika mendengar kata “coach” dan “coaching”?Apalagi digabung dengan kata...
PERCEIVED RESOURCES COACHING UNTUK MENINGKATKAN BUSINESS CONTINUITY
Kesuksesan organisasi berdampak pada keberlanjutan bisnis (business continuity) suatu organisasi. Pada organisasi yang mey...