BLOG

Apakah Profesi Coach itu? – Part 1

Oleh : Ina Rizqie Amalia, PCC

Dari : Buku Sukses Menjadi Professional Coach

Coach adalah profesi baru yang telah disarikan dari konsep keilmuan psikologi, bisnis, evolusi, filsafat, spiritualitas dan keuangan untuk membantu dan membawa manfaat kepada individu, perusahaan, pengusaha, profesional maupun pemilik bisnis.

Profesi ini merupakan profesi mulia dan pada saat bersamaan dapat dijadikan sebagai profesi untuk menambah penghasilan. Coach bersama coachee bekerja sama dengan cara bermitra dan bersinergi selama durasi waktu tertentu dari kisaran tiga bulan sampai dengan satu tahun, bahkan bisa lebih.

Dari begitu banyak professional coach yang kami temui, kami menemukan beberapa hal yang sama:

  1. Memiliki passion.
    Coach bekerja tidak hanya dengan keterampilan dan kompetensi, namun juga menggunakan hatinya, kekuatan dirinya, dan memiliki passion dalam membuat orang lain berkembang. Ia bekerja dengan cinta, kasih dan landasan kemanusiaan yang kuat.
  2. Memiliki etika profesi, keterampilan, dan kompetensi yang memadai.
    Umumnya seorang professional coach menempuh pendidikan coaching yang telah diakui di dalam maupun luar negeri. Dalam pendidikannya seorang coach akan belajar mengenai etika profesi, kompetensi dan keterampilan dalam menghadapi berbagai karakter dan situasi.
    Selain belajar, institusi pendidikan coaching umumnya mendorong siswanya untuk mengaplikasikan sesi-sesi coaching dan juga melakukan praktik coaching, sehingga kaya dengan pengalaman. Pelatihan coaching adalah tempat mendapatkan ilmu, keterampilan, kompetensi, etika, pengalaman dan networking. Durasi pelatihan coaching yang mencakupi hal tersebut memiliki durasi belajar dari 3 bulan – 1 tahun. Sebagai referensi tambahan, untuk menjadi Member of International Coach Federation (ICF), coach wajib menyelesaikan minimum 60 jam training yang telah disetujui atau diakui oleh ICF.
  3. Menghormati dan menghargai orang lain.
    Seorang coach adalah mitra yang menempatkan setiap orang sama dan menghargai perbedaan dan keunikan dari masing-masing individu. Ia mampu melihat sudut pandang yang berbeda dan lebih besar. Seandainya ada perbedaan, ia mampu menghargai dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun begitu, ia mampu berbicara atas nama dirinya sendiri dengan apa yang ia yakini dan percayai dari nilai-nilai dirinya.
  4. Memiliki latar belakang beragam.
    Coach bisa datang dari berbagai latar belakang. Ia bisa saja datang dari pendidikan psikologi, manajemen, bisnis, keuangan, ekonomi, teknik, dan lain sebagainya.
    Mereka umumnya juga memiliki pengalaman kerja yang beragam, mulai dari CEO, pemilik bisnis, karyawan, bagian keuangan, guru, dosen, wiraswasta, ibu rumah tangga, bahkan yang baru lulus kuliah.
    Biasanya mereka memiliki segmentasi klien dari lingkungannya. Contoh seorang CEO atau pemimpin perusahaan, umumnya menjadi seorang executive coach, lalu seorang karyawan dapat menjadi corporate coach, wiraswasta dan pemilik bisnis dapat menjadi business coach, ibu rumah tangga dapat menjadi family atau life coach, yang baru lulus kuliah bisa menjadi coach untuk anak-anak muda atau pemimpin muda di kampus atau sekolah.
    Menjadi coach bisa juga dilihat berdasarkan passionnya. Misalkan seorang karyawan menjadi parenting coach, karena ia memiliki passion dalam parenting. Atau seorang CEO yang menjadi coach untuk para wirausahawan muda, karena ia memiliki kecintaan dalam mengembangkan pemuda melalui kewirausahaan.

Related Post